Melebihi Tuhan
Untuk kesekian kalinya, aku mengulang kesalahanku dengan memposisikan seseorang di dalam posisi yang tidak seharusnya. Posisinya melebihi Tuhan. Bukan, bukan berarti aku menuhankannya, tidak. Tetapi, dengan caraku menaruh rasa dan harapan lebih tinggi dibanding pada Tuhan, itulah di mana posisinya melebihi Tuhan.
Aku seakan-akan lebih meyakini dia dibanding Tuhan. Meyakini segala pemikiranku yang sangat tidak mendasar dan akhirnya, sudah waktunya Tuhan menunjukkan rasa cemburuNya terhadapku. Iya, dia hanya manusia, sama seperti aku. Tapi kenapa aku melakukan itu?
Aku tidak pernah membenci segala ketetapan dan skenario yang sudah ditetapkan olehNya. Tentu, semua mengandung hal baik bahkan walaupun menyedihkan dan menyakitkan. Maaf, Tuhan.
Semoga saat ini juga kedepannya, aku tidak akan melupakan apa-apa saja yang sudah terjadi. Tolong, tetap jaga hatiku agar aku tidak berpaling dariMu ya Rabb. Karena, baik buruknya apa pun yang datang di dalam hidupku, sudah pasti akan mengandung banyak ibrah. Namun, semoga aku paham jika hal tersebut terulang lagi dengan sosok yang berbeda. Semoga posisiMu yang tinggi di dalam jiwa dan hatiku tak akan pernah tergantikan oleh makhluk ciptaanMu yang lain. Tuhan, aku menyayangiMu dan terimakasih sudah mengizinkan aku belajar lagi, dan lagi.
Comments
Post a Comment